KONAWE SELATAN. Sulawesi Tenggara adalah salah satu provinsi di Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai kawasan pengembangan sapi potong nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 43 tahun 2015. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, populasi sapi di Provinsi Sulawesi Tenggara pada 2016 mencapai 333.184 ekor atau menempati posisi ke-12 dari 34 provinsi di Indonesia dengan wilayah pengembangan sapi potong terletak di Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Muna.

Pada tahun 2016, Kabupaten Konawe Selatan kembali ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit sapi bali nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 803 tahun 2016. Berdasarkan data BPS Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe Selatan memiliki populasi ternak sapi potong terbanyak di antara 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara yaitu 65.434 ekor. Produksi daging Konawe Selatan menempati urutan kedua di Sulawesi Tenggara yaitu 752.913 kg per tahun.

Namun, hasil kajian ekonomi yang dilakukan NSLIC/NSELRED bersama Universitas Haluoleo pada tahun 2017 menunjukkan bahwa produktivitas sapi di Konawe Selatan masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan bobot badan harian atau average daily gain (ADG) sapi yang belum maksimal karena sistem pemeliharaan sapi yang dilakukan peternak masih semi intensif dan belum menggunakan pakan tambahan konsentrat untuk menaikkan bobot sapi. Hasil kajian ini merekomendasikan perlunya intervensi untuk perbaikan sistem pemeliharaan sapi dan peningkatan produktivitas ternak sapi melalui penggemukan dengan pakan tambahan konsentrat.

Sebagai tindak lanjut, NSLIC/NSELRED bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dan Universitas Haluoleo memberikan dukungan teknis untuk pengembangan peternakan sapi di Kabupaten Konawe Selatan. Kegiatan yang berlangsung dari Mei hingga Agustus 2018 antara lain melalui pelatihan pengelolaan pakan konsentrat berbasis pakan lokal, tata cara dan komposisi pemberian pakan dan pembuatan demoplot penggemukan sapi di Desa Alebo dan Desa Morome, Kecamatan Konda melibatkan lima rumah tangga peternak terdiri dari lima peternak laki-laki dan empat peternak perempuan dengan total 20 ekor sapi Bali jantan berumur 1,5 hingga dua tahun.

Kaswin (61) dan istrinya, Sumiyati (58) peternak sapi dari Desa Alebo, Kecamatan Konda, dua dari 19 peternak yang telah merasakan manfaat pelatihan pegelolaan pakan dan demo plot penggemukan sapi dukungan NSLIC/NSELRED di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. [Photo: NSLIC/NSELRED]

Saat kegiatan demoplot dimulai, semua sapi ditimbang menggunakan timbangan digital untuk mengetahui bobot awalnya. Penimbangan lalu dilakukan rutin setiap dua minggu untuk memantau perkembangan bobot badan harian atau average daily gain (ADG) sapi. Peternak yang terlibat dalam kegiatan demoplot dilatih cara mengolah pakan dan penggunaan konsentrat. Sapi penggemukan diberi pakan berupa rumput alam atau rumput budidaya seperti rumput gajah dan pakan konsentrat. Pemberian pakan berdasarkan kebutuhan bahan kering sebesar 3% dari bobot badan, dengan proporsi 60% diperoleh dari rumput dan 40% dari konsentrat. Semua sapi yang digemukkan juga diberi obat cacing (Ivomex) dengan dosis 1cc/50kg bobot badan.

Penggemukan sapi melalui demoplot berdampak positif meningatkan pendapatan peternak. Kaswin (61) bersama istrinya, Sumiyati (58) peternak dari Desa Alebo, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan mengikuti pelatihan pengelolaan pakan dan program demoplot penggemukan dengan lima ekor sapi milik mereka. “Setelah menggunakan pakan konsentrat dari 20 Mei hingga 19 Agustus 2018, sapi kami dengan bobot awal 225 kg naik menjadi 280 kg dengan harga jual Rp 11,5 juta per ekor. Durasi pemeliharaannya pun menjadi lebih singkat yaitu 100 hari. Sebelum program demoplot, para peternak di sini menjual sapi dengan bobot 260 kg seharga Rp 10,5 juta per ekor itupun lama pemeliharaannya 150 hari.” kata Kaswin.

Kaswin sudah beternak sapi selama 30 tahun dan dia termotivasi mengikuti program demoplot penggemukan sapi NSLIC/NSELRED karena ingin belajar metode penggemukan sapi yang benar setelah mencoba beberapa trik selama 15 tahun terakhir. “Selama ini saya memelihara sapi dengan cara dikandangkan. Sebelum ikut pelatihan dan program demoplot, pakan sapi yang biasa saya berikan adalah pakan hijauan seperti rumput gajah, daun gamal, rumput lapangan, rumput gajah dan dedak. Saya memberi makan sapi setiap waktu mulai pagi sampai malam dan tidak ada ukuran pemberian pakan. Tapi setelah mengikuti pelatihan dan program demoplot, sekarang saya jadi tahu mengatur pakan sesuai prosedur termasuk pemberian konsentrat. Saya juga tidak pernah menimbang sapi, biasanya untuk tahu ada kenaikan bobot hanya melalui taksiran. Namun, melalui program demoplot ini juga dilakukan penimbangan sapi sehingga kita tahu persis berapa kenaikan bobot sapi. Kalau saya bandingkan sebelum dan sesudah demoplot, sapi yang diberi konsentrat lebih cepat kenaikan bobotnya dibanding yang hanya diberi pakan biasa. Fisik sapi juga berbeda, sapi yang makan konsentrat bulunya lebih halus”.

Berdasarkan hasil pilot demoplot selama tiga bulan, peternak yang akan mengembangkan usaha penggemukan sapi disarankan memilih bakalan dengan bobot minimal 200 kg karena peningkatan bobotnya akan lebih cepat dibandingkan bakalan berbobot di bawah 200 kg. Professor Takdir Saili dari Universitas Haluoleo, salah satu trainer untuk program demoplot dan penggemukan sapi ini mengatakan, “Hasil demoplot di Konawe Selatan menunjukkan bahwa dengan melakukan penyesuaian pada hasil timbangan masing-masing sapi dengan berat badan awalnya, sapi treatment (dengan konsentrat) mengalami peningkatan berat badan lebih tinggi yaitu 7,7% dibandingkan sapi control (tanpa konsentrat), atau selisih bobotnya mencapai 15,3 kg. Pemilihan bobot badan minimal 200 kg juga akan berpengaruh pada jangka waktu pemeliharaan dan biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak. 

Untuk replikasi dan memperluas dampak positif program penggemukan sapi dan demoplot, NSLIC/NSELRED akan melibatkan 45 peternak penggemukan sapi di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Konda, Landono dan Mowila pada September 2018 hingga Maret 2019. Ditargetkan, pendapatan bersih peternak sapi akan naik sekitar 18% dengan bobot sapi optimal yaitu 290 kg dan harga jual naik menjadi Rp 11,6 juta per ekor. Selain itu, NSLIC/NSELRED juga akan memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah peternakan sapi untuk pertanian, memfasilitasi pembuatan Perda dan Perbup serta peningkatan akses pasar.    

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.