Pelatihan Market Assessment yang didukung Proyek NSLIC (atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kanada) dikemas dengan cara yang berbeda. Pendekatan pelatihan tidak hanya in-class training tetapi juga melakukan kunjungan ke pelaku usaha. Peserta yang terdiri dari unsur Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara cukup antusias mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir, pelatihan tidak membosankan (diisi dengan ice breaking) dan belajar langsung kepada komunitas pelaku usaha.

Dukungan terhadap kegiatan ini diberikan oleh Sekretaris Bappeda J. Robert pada saat membuka pelatihan yang berlangsung 7-9 Agustus 2017. J. Robert mengatakan “Pertumbuhan perekonomian di Sultra sekitar 6% dengan angka pengangguran 12-13%. Artinya dengan kehadiran Proyek NSLIC diharapkan dapat membuka peluang kegiatan usaha yang pada akhirnya dapat menyumbang pada peningkatan angka pertumbuhan perekonomian di Sulawesi Tenggara”. Dia menambahkan bahwa pelatihan ini diharapkan memberi manfaat pada proses perencanaan daerah.

Penyampaian konsep dan diskusi di kelas pada hari pertama telah menghantarkan peserta pada konsep dinamika pasar dan peluang-peluang pengembangan usaha. Peserta diperkenalkan dengan metode M4P (the Making Market Works for the Poor) dan Market Gap untuk Komoditas. Apa itu metode M4P? M4P merupakan sebuah pendekatan yang telah dikembangkan di beberapa negara dan program donor seperti di India, Srilangka dan di Indonesia. Di Indonesia sendiri pendekatan ini telah dikembangkan oleh sebuah program dukungan Pemerintah Australia dengan produk unggulan di sektor pertanian dan perkebunan di beberapa wilayah Indonesia Timur. Contoh yang dipaparkan pada pelatihan ini adalah pengembangan singkong (ubi kayu) sebagai pakan ternak di NTT.

Pengenalan pendekatan M4P dilakukan dengan mendiskusikan dinamika pasar dan analisis supply-demand gap (market gap) untuk komoditas tertentu. Dengan keterbatasan waktu pembahasan ternyata dapat menghasilkan kajian dari para peserta yang cukup informatif. Peserta dapat menampilkan kajian mereka mengenai dinamika pasar internasional untuk produk sapi, konsumen daging terbesar, perubahan 5-10 tahun terakhir, produktivitas, dan sebaran konsumen. Mereka juga dapat menganalisis hingga dinamika pasar nasional dan pasar regional untuk produk sapi.

Dalam hal market map, peserta cukup antusias membahas keterkaitan rantai nilai pada sisi supply maupun demand. Supply dan demand dapat dirincikan lagi seperti adanya input, teknologi dan sumber daya manusia. Dengan terkumpulnya data tersebut maka diperoleh gap (celah masalah). Gap dapat muncul dalam relasi/interaksi antar supply dan demand ataupun pada masing-masingnya. Catatan penting kepada peserta bahwa dalam analisis pasar perlu mengintegrasikan prinsip kesetaraan gender dan kelestarian lingkungan di dalamnya.

Setelah memahami bersama mengenai dinamika pasar dan market gap, peserta diajak ke lapangan untuk melihat langsung, memahami, menganalisis serta mendiskusikan rekomendasi bagi pengembangan ekonomi para pelaku usaha. Peserta dibagi dalam dua kelompok berdasarkan komoditas yaitu sapi dan ikan. Kelompok Komoditas Sapi berkunjung ke tempat pengolahan kulit sapi, rumah potong hewan, dan peternak sapi. Sementara untuk Kelompok Komoditas Ikan berkunjung ke Kelompok Nelayan Tangkap dan Kelompok Nelayan Keramba.

Melalui kunjungan ke lapangan, peserta dapat memetik pembelajaran langsung mengenai rantai nilai suatu komoditas, misalnya sapi dan ikan. Satu komoditas saja mempunyai rantai nilai yang cukup panjang dimulai dari penghasil, pengemas, hingga pemasaran. Peserta mendapat pengalaman bahwa satu rantai nilai saling terkait dengan rantai nilai lainnya. Bahkan untuk contoh komoditas sapi, pengolahan kulit sapi bisa mencapai Lombok Nusa Tenggara Barat.

Setelah memahami dinamika pasar hingga rantai nilai ekonomi, peserta diperkenalkan dengan business model. Business model merupakan salah satu model pendekatan perencanaan sebagai pedoman untuk menyusun rencana aksi pengembangan ekonomi (lebih khusus lagi komoditas). Peserta tertarik dan menghasilkan business model untuk dua komoditas yaitu sapi dan ikan.

Pelatihan selama tiga hari ini memberikan makna bahwa pengembangan ekonomi lokal jangan hanya terpaku pada bantuan langsung kepada petani dan sumber daya yang ada, namun lebih baik diarahkan untuk keluar dari maidset lama dengan cara salah satunya adalah M4P (the Making Market Works for the Poor). Dengan pendekatan ini pembuat regulasi (perencana daerah) akan lebih terkonfirmasi kebutuhan pada supply dan demand sehingga dapat memperkecil gap yang dapat menghambat pengembangan ekonomi lokal.

Mengutip salah satu ‘permainan’ dalam pelatihan ini yaitu permainan menghubungkan titik satu dengan yang lain menjadi sesuatu yang mudah dikenali orang lain. Belajar dari ‘permainan’ ini, banyak orang yang berpikir bahwa titik-titik itu harus terhubung semua sehingga menghasilkan sesuatu yang mudah dikenali, namun pada kenyataannya sesuatu tersebut sangat dipaksakan. Bila diandaikan titik-titik itu adalah rantai nilai maka tidak semua rantai nilai harus dihubungkan, bisa jadi titik tersebut tidak berfungsi sehingga dapat menghambat pengembangan ekonomi. Untuk dapat memahami rantai nilai mana yang efektif dan efisien, pendekatan M4P cukup bermanfaat, khususnya bagi pihak pembuat kebijakan ataupun perencanaan daerah.

 

 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.